BANGLI, INFO_PAS — Rangkaian kegiatan culture visit delegation dalam ajang World Congress on Probation and Parole 2026 menghadirkan pengalaman langsung bagi para delegasi internasional untuk melihat praktik pembinaan pemasyarakatan berbasis budaya di Bali. Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Lapas Narkotika Kelas II A (Lapastik) Bangli, sebelum dilanjutkan ke Yayasan Gurukula, Griya Abhipraya Dharma Laksana Bapas Karangasem. (17/04)
Setibanya di Lapastik Bangli, para delegasi terlebih dahulu menjalani prosedur keamanan yang ketat. Seluruh barang bawaan diperiksa melalui mesin X-ray, disertai pemeriksaan badan guna dan pengecapan di tangan memastikan standar keamanan lapas tetap terjaga. Proses ini memberikan gambaran nyata tentang penerapan sistem pengamanan modern di lingkungan pemasyarakatan.
Memasuki area lapas, para tamu disambut meriah dengan penampilan yel-yel dari warga binaan yang penuh semangat. Suasana semakin hidup saat pertunjukan tari kecak yang dibawakan oleh warga binaan Lapastik Bangli berhasil memukau para delegasi, sekaligus menunjukkan keberhasilan pembinaan berbasis seni dan budaya.
Selanjutnya, para delegasi dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengunjungi Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Dalam sesi ini, para tamu diajak melihat langsung berbagai kegiatan kemandirian warga binaan, mulai dari panen vanili, budidaya madu, kerajinan teraso, hingga perawatan tanaman bonsai. Kegiatan ini mencerminkan upaya pembinaan yang produktif dan berorientasi pada pemberdayaan.
Kunjungan berlanjut ke klinik lapas, di mana para delegasi mendapatkan penjelasan mengenai sistem pelayanan kesehatan yang telah tersertifikasi. Para tamu juga diajak melihat langsung fasilitas serta mekanisme kerja klinik dalam memberikan layanan kesehatan kepada warga binaan secara profesional.
Sebagai penutup di Lapastik Bangli, para delegasi diajak mengunjungi area produksi makanan, seperti pembuatan tempe dan tahu. Tidak hanya melihat proses produksi, para tamu juga berkesempatan mencicipi hasil olahan tersebut. Antusiasme dan apresiasi pun terlihat dari para delegasi yang mengaku terkesan dengan kualitas dan cita rasa produk hasil karya warga binaan.
Di Yayasan Gurukula, para delegasi kembali dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengikuti tur keliling. Mereka diperlihatkan berbagai aktivitas pembinaan anak, seperti kegiatan beternak, kunjungan ke ruang konseling, proses pembuatan lukisan, hingga praktik membuat canang sebagai bagian dari tradisi spiritual Bali.
Kegiatan culture visit ini ditutup dengan makan siang bersama di aula Yayasan Gurukula, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat antara delegasi internasional dengan para pembina dan anak-anak Gurukula. Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga memperkuat citra pemasyarakatan Indonesia yang humanis, produktif, dan berbasis kearifan lokal.